Sebentar lagi mau puasa niih..... jadi sebelumnya pengen minta maap sama temen2x....dan semuanya yg udah berkunjung ke blog ini....Maapin kalo ada salah2x kata atau perbuatan....yg disengaja ataupun tidak.... Smoga kita dapat menghidupkan bulan ramadhan kali ini..... dan semoga kita semua mendapatkan rahmat dan ampunannya di bulan ramadhan ini.... dibukakan pintu surganya untuk kita....dan ditingkatkan keimanannya menjadi takwa....*aaamiin*
Btw ini ada sedikit pembahasan mengenai puasa yg diambil dari buku Puasa, penulisnya Muhammad Rusli Malik. InsyaAllah tgl 30 sept, beliau mengisi acara kajian lepas kerja(ba'da isya) di masjid Al Azhar membahas mengenai puasa...*dateng yuuks

*
-------------------------------------------------------------------------------------------
PUASA
Dalam bahasa Arab dan Alquran, puasa adalah shawm atau shiyam yg berasal dari akar kata sha-(a)-ma, ya-shuw-mu, yg artinya qif'anil fi'li (berhenti dari suatu pekerjaan). Jadi puasa, secara terminologis, adalah koma, jeda, atau sikap berhenti sejenak dari suatu kegiatan yg bersifat rutin atau berkesinambungan. Puasa bukanlah titik atau kunci mati terhadap suatu pekerjaan atau aktivitas yg seharusnya berjalan terus-menerus.
Kenapa harus berhenti sejenak? Karena kegiatan rutin yg berkesinambungan cenderung menimbulkan 3 dampak serius.
1. Sesuatu yg berjalan sebagai business as usual(lazim) Kadang-tanpa kita sadari- menjadi dinding yg masif yg menghalangi kita melihat realitas lain di luar dinding tersebut....
2. Kegiatan rutin setelah berjalan sekian lama menyebabkan terjadinya phsychological boring yg berakibat pada stres atau depresi. Apa pun akibatnya, kebosanan jiwa bisa berdampak lebih jauh dgn membuat pengidapnya menjadi kurang kreatif dan produktif....
3. Tubuh kita memiliki 2 sentra kegiatan. Perut adalah sentra kegiatan yg bersifat materialistis & biologis. Sentra yg lain adalah otak, fungsinya terdapat pada tiga hal: intelektual, emosional, dan spiritual. Orang yg kebutuhan perutnya mengalahkan kebutuhan otaknya, niscaya tidak bisa melihat sesuatu di balik apa yg ada kini dan di sini. Bahkan tidak bisa melihat hakikat sesuatu yg berada di balik yg tampak oleh mata. Horizon pandangannya sangat sempit, zhahir dan pendek. "Mereka hanya mengetahui yg lahir (saja) dari kehidupan dunia..." (Q.S ar Ruum[30]:7).
Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan: "Orang yg pikirannya hanya berpusat di sekitar perut, maka harga dirinya tidak lebih dari apa yg keluar dari perut." Orang yg ideologinya adalah ideologi perut, maka visi dan misi hidupnya akan mengalami distorsi dan bias. Untuk itu, yg benar adalah sebaliknya. Kebutuhan yg berbasi pada otaklah yg harus menguasai kebutuhan yg berbasis pada perut.
Berdasarkan 3 hal diatas, dengan berpuasa dapat meruntuhkan dinding-dinding masif dan menghilangkan phsychological boring beserta turunannya. Puasa juga berpungsi untuk meruntuhkan sekat2x sosial dan sekaligus pil penawar untuk mengusir kebosanan psikologis kita. Puasa juga adalah power untuk merestrukturisasi kebutuhan yg berbasis di perut dan di otak yg susunannya telah jungkir balik selama ini.
Bahkan lebih dari itu, puasa mengajarkan nilai-nilai Ilahi yg bersifat transendental. Karena dalam perspektif Islam, bukan sekularisasi yg tepat, tapi transendentalisasi. Yaitu bagaimana cara agar, setiap hal yg ada pada (hidup) kita tidak berhenti pada modus to have (memiliki) tapi bergerak menuju ke modus to be (menjadi).
Maksud dari transendentalitas di sini yaitu, takwa. Yakni (seakan-akan) melihat Sang Khaliq pada saat melihat Makhluk-Nya. Sehingga tidak berani mengambil dan memperlakukan sesuatu itu dengan cara yg tidak diridhai-Nya. Logikanya: semakin sering sesorang berpuasa, semakin terjaga akhlak dan moralnya.
---
Dikutip dari: Puasa (Menyelami arti kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual dan kecerdasan Emosional di bulan ramadhan) oleh Muhammad Rusli Malik, Bab II (Menghidupkan Ramadhan, bukan Meramaikan).
Tulisan diatas telah diringkas dari bukunya.