Satu episode dalam mimpiku
Posted by linda at 12:53 PM on April 12, 2004 in .
Saat itu hujan deras, aku baru saja keluar dari pertokoan. Kulihat segerombolan anak kecil dengan payung mereka yang kebesaran, menunggu orang-orang yang ingin menggunakan jasa ojek payung mereka. Pantaskah emreka melakukan peekerjaan itu?
Waktu itu di jalan, "polisi cepek" kuilhat sedang membantu mobil yang hingin memutar arah, hujan deras tidak dipedulikannya. Walaupun tubuhnya basah kuyup, ia tetap bekerja untuk seratus rupiah. Inikah seharusnya yang ia kerjakan?
Dari dalam rumah, kulihat seorang lelaki tua mendorong gerobak dagangannya, walalupun hujan deras, ia terus melangkahkan
kaki mendorong gerobaknya. Berharap ada yang mau membeli dagangannya. Seperti inikah seorang kepala keluarga mencari nafkah
untuk keluarganya?
Kubuka majalah, kubaca artikel mengenai seorang wanita yang dulunya merupakan ketua perkumpulan buruh pabrik sepatu, mendekam
di penjara hanya karena membela buruh. Buruh yang dipaksa kerja sampai larut malam hanya untuk mengejar target, buruh yang harus
mendengarkan caci maki penuh kata-kata kasar dari atasannya, ketika terlalu lama beribadah. Buruh yang jika ingin ke kamar
mandi harus menggunakan kartu ijin. Inikah imbalan untuk mereka?
Kulihat berita di TV, mengenai SD yang ambruk dan melukai murid yang sedang belajar. Pantaskah mereka mendapatkannya?
Di kereta, seorang pencopet yang ketahuan oleh massa dengan santainya mengacung-acungkan golok ke arah seluruh penumpang
kereta untuk memperlihatkan bahwa tak ada yang dapat menangkapnya. Inikah yang harus dialami penumpang kereta?
Di bus, ketika lelah sepulang bekerja, haruskah bertambah lelah oleh rasa takut karena adanya preman yang berani mengancam
dan "memalak" penumpang?
Aku terhenyak, inikah potret negeriku? Negeri yang punya slogan "Bhineka Tunggal Ika". Negri yang katanya penuh dengan
keramah tamahan dan senyuman. Dimankah semua itu?
Apakah yang kusaksikan merupakan tanda dari kehancuran negri yang besar ini?
Kuharap jawabnya "tidak"!
Mudah-mudahan semua ini hanya satu episode dari mimpiku yang belum usai. Kuberharap di episode selanjutnya dari mimpi ini
berisi cerita tentang negeri yang damai dan tentram, negeri dengan penduduknya yang makmur dan sejahtera penuh dengan keramah
tamahan dan senyuman.
Quote: "Don't ask what country can give you, but what can you give to the country" --Abraham Lincoln.
Waktu itu di jalan, "polisi cepek" kuilhat sedang membantu mobil yang hingin memutar arah, hujan deras tidak dipedulikannya. Walaupun tubuhnya basah kuyup, ia tetap bekerja untuk seratus rupiah. Inikah seharusnya yang ia kerjakan?
Dari dalam rumah, kulihat seorang lelaki tua mendorong gerobak dagangannya, walalupun hujan deras, ia terus melangkahkan
kaki mendorong gerobaknya. Berharap ada yang mau membeli dagangannya. Seperti inikah seorang kepala keluarga mencari nafkah
untuk keluarganya?
Kubuka majalah, kubaca artikel mengenai seorang wanita yang dulunya merupakan ketua perkumpulan buruh pabrik sepatu, mendekam
di penjara hanya karena membela buruh. Buruh yang dipaksa kerja sampai larut malam hanya untuk mengejar target, buruh yang harus
mendengarkan caci maki penuh kata-kata kasar dari atasannya, ketika terlalu lama beribadah. Buruh yang jika ingin ke kamar
mandi harus menggunakan kartu ijin. Inikah imbalan untuk mereka?
Kulihat berita di TV, mengenai SD yang ambruk dan melukai murid yang sedang belajar. Pantaskah mereka mendapatkannya?
Di kereta, seorang pencopet yang ketahuan oleh massa dengan santainya mengacung-acungkan golok ke arah seluruh penumpang
kereta untuk memperlihatkan bahwa tak ada yang dapat menangkapnya. Inikah yang harus dialami penumpang kereta?
Di bus, ketika lelah sepulang bekerja, haruskah bertambah lelah oleh rasa takut karena adanya preman yang berani mengancam
dan "memalak" penumpang?
Aku terhenyak, inikah potret negeriku? Negeri yang punya slogan "Bhineka Tunggal Ika". Negri yang katanya penuh dengan
keramah tamahan dan senyuman. Dimankah semua itu?
Apakah yang kusaksikan merupakan tanda dari kehancuran negri yang besar ini?
Kuharap jawabnya "tidak"!
Mudah-mudahan semua ini hanya satu episode dari mimpiku yang belum usai. Kuberharap di episode selanjutnya dari mimpi ini
berisi cerita tentang negeri yang damai dan tentram, negeri dengan penduduknya yang makmur dan sejahtera penuh dengan keramah
tamahan dan senyuman.
Quote: "Don't ask what country can give you, but what can you give to the country" --Abraham Lincoln.
* Waktu itu masih siang sekitar jam 1 an gitu deh. Daripada bete, akhirnya nyobain tidur, trus pas kebangun masih dalam tol juga 
" Tapi pas baca liriknya.... timbul kesan ternyata puitis juga yah :D Sampe mikir bisa juga penyanyi nya bikin lirik seindah ini ^_^